Senin, 07 Desember 2009

Dengan Catur, Tuai "Duit" Puluhan Juta



Siapa yang tak kenal permainan catur? Salah satu permainan tertua yang paling digemari karena mengadu ketajaman berpikir ini ternyata menjadi bisnis yang menggiurkan.

Sugeng Prayitno, perajin catur atau Wood Chess asal Pasuruan, mengaku dalam sebulan dapat meraih omzet minimal Rp 30 juta per bulan dari penjualan 400 set permainan catur, yakni papan catur dan bidak (wood chess), termasuk tas yang diproduksinya.

Ia berkisah kiprahnya sebagai perajin catur dimulai sejak tahun 1970-an. Tepat pada 1976, Sugeng memberanikan untuk membuka usaha catur kayu (wood chess) sendiri di rumahnya.

Semula, modalnya hanya seekor kambing pemberian orangtuanya. Kambing tersebut lantas ia jual seharga Rp 50.000 dan habis untuk membeli kayu sebagai produksi catur perdananya. "Pertama, modal saya hanya satu ekor kambing, terus saya jual dapat Rp 50.000. Kalau dulu Rp 5.000 itu sudah banyak lho.Terus uangnya habis untuk beli kayu," tutur Sugeng saat ditemui Kompas.com di Pandaan, Pasuruan.

Seiring waktu berjalan, kesuksesan bisnis catur yang diimpikannya belum juga menghampiri dirinya. Bisnis catur Sugeng pun sempat bangkrut. Ia pun memutuskan kembali mencari pekerjaan lain untuk mendapatkan modal.

Tahun 2002, Sugeng mendapatkan bantuan kredit UKM dari Dinas Koperasi Pusat Surabaya sebesar Rp 75 juta yang dapat diangsur selama dua tahun dengan bunga 5 persen per tahun.

Dalam menjalankan usahanya, ia selalu mengutamakan mutu dan pelayanan. Buah catur (wood chess) kreasinya terbuat dari kayu mentaos dan sonokeling. Kreasi buah catur buatan Sugeng dibuat dengan menggunakan alat bubut. Catur kreasinya dibuat dan dipoles dengan sangat rapih dan futuristik. Untuk menarik perhatian pembeli, ia juga melengkapi catur produksinya dengan tas yang mampu memuat papan catur sekaligus bidaknya.

Di ujung tanduk
Sugeng mengakui, nasib industri mainan kayu (wood chess) yang ia geluti saat ini bagaikan telur di ujung tanduk, tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Alasannya, bukan karena krisis, melainkan sulitnya mendapatkan bahan baku dan semakin sedikitnya perajin buah catur. "Sekarang mendapat bahan baku kayu susah sekali dan menghambat permintaan produksi yang tinggi dan dituntut tepat waktu. Ditambah lagi, semakin sedikitnya tenaga kerja yang mau terlibat dalam bisnis mainan kayu ini," ujarnya.

Menurutnya, bahan kayu (wood chess) yang didapatnya dari daerah Singosari dan Tumpang, Malang kerap sulit didapatnya. Kata Sugeng, sedikitnya jumlah tenaga kerja yang mau terlibat dalam bisnis mainan catur tersebut, akhirnya tidak mampu memenuhi permintaan produksi dari pabrik yang ingin membeli dari UD Truno Catur.

Padahal, banyak permintaan yang mengalir dari luar Jawa, bahkan luar negeri, untuk membeli catur buatannya. "Saya tidak berani, wong untuk produksi lokal saja sudah tak mampu, apalagi keluar," papar Ayah enam anak yang memasarkan caturnya hingga ke Surabaya, Semarang, dan Malang ini.

Namun, meski belum berani memasarkan produk ke luar Jawa, Sugeng rajin ikut pameran untuk mempromosikan produknya. Ia mengatakan, dirinya tidak akan gentar memproduksi mainan catur (wood chess) karena saat ini dirinya merupakan pemain tunggal dalam bisnis catur di daerah Pasuruan. "Banyak teman-teman pengusaha yang sudah mundur dari pertaruhan bisnis ini. Ini peluang bagi saya," ujarnya.

Mendatang, Sugeng bertekad untuk mengembangkan usahanya dengan membuat showroom khusus mainan catur (wood chess) agar orang lebih tertarik untuk mampir.

m.kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar