Tampilkan postingan dengan label barang antik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label barang antik. Tampilkan semua postingan

Jumat, 23 Juli 2010

Kolektor Barang Seni

Benda-benda sejarah dan seni tradisional bernilai tinggi asal Indonesia, terutama Kalimantan Barat, banyak menjadi koleksi museum di Malaysia. Bahkan, benda-benda bersejarah dan bernilai seni tradisional tersebut diakui sebagai warisan sejarah dan budaya Malaysia.

”Bisa saja koleksi itu kembali menjadi milik Indonesia. Tapi, perlu langkah serius mengurusnya,” ujar A. Hendrick, Kepala Unit Pengelola Pos Pemeriksaan Lintas Batas di Entikong, Kalimantan, dalam kegiatan Kemah Wilayah Perbatasan (Kawasan) pada 19 Mei 2010.

Kegiatan yang diselenggarakan Direktorat Geografi Sejarah, Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala pada Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata itu diikuti guru-guru Geografi dan Sejarah dari seluruh Indonesia untuk memahami dan mengalami langsung kehidupan masyarakat di wilayah perbatasan di Entikong yang berbatasan dengan Tebedu, Malaysia.

Hendrick mengatakan, ratusan koleksi yang berpindah tangan ke salah satu museum di Malaysia itu meliputi keramik, ukiran-ukiran kayu, manik-manik, tempayan, dan perisai mandau.Triana Wulandari, Koordinator Kemah Wilayah Perbatasan dari Direktorat Sejarah Geografi, meminta supaya di pos lintas batas Entikong-Malaysia juga perlu lebih teliti dalam pemeriksaan benda-benda sejarah dan purbakala. ”Mesti juga ada kesadaran untuk mewaspadai perdagangan benda-benda purbakala ke kolektor barang antik di negara tetangga,” kata Triana.

Sumber : indonesiaproud.wordpress.com

Temukan semuanya tentang Bisnis & Pasang Iklan: Iklan & Jasa - Iklan Baris & Iklan Gratis – Indonesia

Senin, 21 Desember 2009

Menjaga Furniture Antik Agar Awet



Setelah diberikan kiat dan langkah dalam merawat dinding ruangan dan korden, kali perawatannya ditujukan pada furniture. Seperti diketahui, tidak akan ada pemilik rumah yang ingin Furniture Antik kesayanganya rusak termakan usia.

Terlebih lagi, jika furniture antik itu memiliki nilai sejarah dan harganya pun mahal. Salah satu cara agar perabotan antik itu tetap awet, tentu saja dengan melakukan perawatan yang benar dan telaten.

Merawat furniture bekas sejatinya tak jauh berbeda dengan merawat furnitur baru. Lagipula sudah terbukti, kalau furniture antik memiliki masa hidup yang panjang lantaran umumnya terbuat dari kayu jati yang terbukti tahan lama. Meski begitu, perawatan furniture antik tidak bisa sembarangan. Langkah pertama dalam perawatan furniture, pemilik mesti paham dulu bahan dasar perabotan antik itu.

Lalu pilihlah bahan pembersih sesuai bahan dasar furniture tersebut. Tak perlu bingung memilih. Saat ini di pasaran ada banyak produk pembersih furniture dengan peruntukan yang jelas.

Jika terbuat dari kayu, pembersihnya juga khusus untuk furniture kayu. Selain untuk membersihkan furniture dari kotoran, pembersih furniture kayu umumnya juga berfungsi melindungi cat atau pelitur. Bila ingin membeli pembersih kayu, pilih produk perawatan yang aman.

Bila salah beli, bisa-bisa cat atau pelitur furniture antik malah luntur. Hal ini umumnya terjadi pada pembersih furniture yang harganya murah. Bukannya membersihkan atau merawat, pembersih itu justru merusak furniture. Sebab zat kimia yang terkandung dalam produk itu menggunakan campuran, yang bisa melunturkan cat atau pelitur.

Perawatan furniture antik sehari - hari juga mudah, karena hanya perlu mengelap dengan menggunakan kain kering. Fungsinya, untuk membersihkan debu yang menempel di furniture.

Bila furniture antik tersebut memiliki banyak ukuran, pemilik harus lebih cermat membersihkan di bagian sela - sela ukiran. Jangan sampai terlewat, kalau masih kotor basahi lap dengan sedikit air, lalu basuh seluruh permukaan. Setelah itu, tetap gunakan lap kering pada sentuhan terakhir.

Jika perabotan antik terlanjur rusak akibat gerogotan rayap atau patah, pilihlah bahan dasar yang sesuai lalu ganti bagian furniture yang rusak itu. Tak lupa, furniture itu harus segera dipelitur ulang agar tampak seperti furniture baru lagi.

Di samping itu, jangan sampai Furniture Antik terkena sengatan matahari langsung saat menunggu pelitur kering. Pelitur basah yang menempel pada perabot akan membuat inti kayu melepuh, bila tersengat langsung sinar matahari.

berbagai sumber

Rabu, 09 Desember 2009

Kolektor Barang Seni Temukan Jari dan Gigi Galileo


Seorang Kolektor Barang seni telah menemukan satu gigi, jempol dan jari lain ilmuwan kenamaan Italia Galileo Galilei, yang meninggal pada Abad XVII, demikian pernyataan Museum Sejarah Ilmu Pengetahuan di Florence, Jumat.

Bagian tubuh itu, bersama dengan satu jari lain dan ruas tulang belakang, dipotong dari jasad Galileo oleh beberapa ilmuwan dan ahli sejarah selama upacara pemakaman yang diselenggarakan 95 tahun setelah kematiannya pada 1642.

Giovanni Targioni Tozzetti, seorang ahli sejarah sains yang memotong beberapa bagian tubuh dan menulis mengenai upacara tersebut, "mengakui ia menghadapi kesulitan untuk melawan godaan untuk tidak membawa pergi tengkorak yang telah menampung seorang yang sangat jenis seperti Galileo", kata museum itu.

Peninggalan sejarah yang baru ditemukan tersebut telah berpindah dari seorang kolektor ke kolektor barang lain sampai semuanya hilang pada 1905. Ruas tulang belakang dan jari yang tersisa telah diawetkan sejak 1737 dalam kondisi seperti mummi di beberapa muesum di Florence dan Padua.

"Oleh sebab itu, semua bahan organik yang diserap dari mayat tersebut kini telah diidentifikasi dan diawetkan di tangan yang bertanggung jawab," kata museum itu dalam satu pernyataan.

"Dengan dasar pendokumentasian sejarah yang sangat banyak, tak ada keraguan mengenai keaslian semua barang tersebut," tambahnya.

Semua benda itu akan dipamerkan mulai awal 2010, ketika museum tersebut dibuka kembali setelah kegiatan perbaikan saat ini dan mengubah namanya jadi museum Galileo.

Galileo, yang dilahirkan di Pisa pada 1564, dipandang sebagai "bapak ilmu pengetahuan modern" karena studinya dalam bidang fisika, matematika dan terutama astronomi. Ia telah memimpin kemajuan yang sangat besar dalam pengembangan teleskop.

Gigi dan jari-jarinya yang hilang dibeli oleh seorang Kolektor Barang tanpa nama dalam lelang baru-baru ini. Semuanya dijual sebagai benda bersejarah yang tak dikenal yang tersimpan di dalam kotak kayu Abad Ke-17, kata muesum tersebut.

Selama 95 tahun setelah kematian Galileo, dinas gereja menolak untuk mengizinkan mayatnya dikuburkan di tanah yang disucikan karena temuannya dipandang bertolak belakang dengan ajaran Gereja Katholik.

Kerangkanya kini berada di gereja Santa Croce, Florence, di seberang kuburan Michelangelo

antaranews.com

Kamis, 19 November 2009

Mendulang Untung dari Koleksi Benda Antik



Di penghujung tahun lalu, ada pemandangan menarik di Darmawangsa Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya, di Galeri Sidharta Auctioneer. Saat itu tengah digelar lelang barang-barang seni nan antik. Tentu saja para penikmat seni sedang larut dalam proses lelang Benda Antik itu. Tak jarang mereka berlomba untuk mendapatkan benda incarannya. Nilai tawar-menawarnya pun bukan dalam hitungan kecil, tetapi dalam angka yang relatif besar.

Salah satu benda antik seni yang sedang dilelang adalah sejumlah mebel antik yang berasal dari Eropa dan dalam negeri yang dibuat dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Ada lemari bergaya Belanda abad ke-19 dengan kaki berbentuk bulat dan cakar ditawarkan di kisaran harga Rp 25-27 juta. Lalu, sepasang kursi dari Italia abad ke-18 dengan kakinya yang membentuk huruf X melengkung yang ditawarkan Rp 18-20 juta. Tak hanya itu, balai lelang ini pun menjajakan furnitur gaya Semarangan, mulai dari kursi, meja rias hingga meja pojok.

Dalam lelang benda antik tersebut nampak Suli Mahatma sedang asyik mengajukan harga tertinggi untuk memperoleh benda incarannya, sebuah lemari sudut yang unik. Sepertinya mantan pramugari Gadura ini tak pernah puas dengan koleksi mebel antik yang sudah ia miliki. “Koleksi saya belum banyak, baru 50 unit,” katanya merendah. Koleksinya itu beragam, mebel Jawa, Palembang, Cina hingga Eropa.

Lelang memang merupakan salah satu cara berburu benda antik. Namun, lelang mebel antik tergolong langka seperti bendanya. “Kami juga baru sekali ini melelang mebel antik dan animo pengunjung cukup besar,” ucap Amir Sidharta, pemilik Galeri Sidharta Auctioneer. Tak bisa dipungkuri, mencari mebel antik tidaklah gampang. Perlu kemampuan dan pengalaman tersendiri untuk mendapatkannya. Tak jarang banyak mebel antik nan indah, tapi hasil reproduksi dari benda aslinya.

Amir sendiri bisa mendapatkan benda antik dengan berbagai cara, mulai dari mendatangi para kolektornya yang ingin melepas bendanya atau para pewaris benda itu karena ingin beralih gaya ke yang lebih kontemporer dan minimalis, hingga bekerja sama dengan berbagai galeri benda antik yang menjajakan mebel antik. “Kami tidak membeli tapi menjadi fasilitator antara penjual dan pembeli,” ujar Amir sambil menjelaskan dalam lelang itu pihaknya berhasil mengumpulkan Rp 300 juta.

Suli yang sudah sejak 1980-an mengoleksi mebel antik punya kiat untuk memperoleh koleksinya, yaitu melalui sesama kolektor baik membeli maupun barter benda seni. “Saya lebih senang mendapatkannya dari kolektor sebelumnya atau dimiliki orang lain, bukan dari pedagang,” ia bertutur. Kalau dari toko-toko benda antik seperti di Ciputat, Tangerang, ia kadang meragukan keasliannya, apakah hasil reproduksi atau bukan.

Seperti benda antik berupa kursi Cirebon yang berumur sekitar 200 tahun itu, awalnya kepunyaan temannya yang juga kolektor benda seni. Setiap kali Suli bertandang ke rumah sang teman, selalu diceritakan sejarah tempat duduk itu. Sampai-sampai Suli kepincut untuk mengambil alih. “Saya sampai memaksa teman untuk menjualnya,” ujarnya seraya tertawa lebar. Suli menyebutkan, kursi itu ia beli seharga US$ 3 ribu di tahun 1980-an.

Terlepas dari berbagai tujuannya memiliki mebel antik, itu semua merupakan sebuah investasi. “Ada yang memiliki benda antik sebagai investasi untuk mendapatkan kepuasan, dan ada juga yang investasi untuk mencari keuntungan materi,” kata Amir menganalisis. Malah Suli memandang, mengoleksi mebel antik itu ibarat investasi tanah. “Semakin lama harganya akan naik,” ia menandaskan. Bedanya, kalau tanah nilainya jadi tinggi karena lokasinya, sedangkan mebel antik tergantung pada model, kualitas dan otentitasnya.

dedesuryadi.blogspot.com

Rabu, 04 November 2009

Jalan Surabaya, Pasar Barang & Benda Antik yang Meredup



Pedagang barang dan Benda Antik di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, minta pemerintah membantu promosi menyusul turunnya jumlah pengunjung hingga separuh sejak 2005. "Pengunjung turun tajam sejak empat tahun silam dan hingga sekarang masih tetap sedikit, untuk itu kami minta pemerintah menggenjot promosi," kata H Mumu Hidayat, Koordinator Pedagang Benda Antik pasar itu, di Jakarta, Kamis.

Menurut Hidayat, promosi itu bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga untuk pasar luar negeri mengingat sebelumnya tempat ini menjadi salah satu favorit turis untuk mencari benda antik. "Sebelum tahun 2005 banyak turis Australia, Swedia, dan beberapa negara lainnya, secara rutin mengunjungi satu-satunya pasar benda antik di Jakarta ini, dan biasanya selalu membeli barang apa saja yang diminati," kata Hidayat.

Sardi, penjual barang dan benda antik yang mengaku sudah 35 tahun berjualan di pasar itu, mengatakan, "Dalam dua tiga tahun belakangan ini barang dan benda antik yang laku jumlahnya terus menurun, kalau sebelumnya tiap minggu pasti ada yang beli, belakangan ini hanya laku dua atau tiga buah dalam sebulan."

Akibat pendapatan menipis, dia mengaku tak jarang harus mengutang untuk membiayai keluarga.

Pasar Antik Surabaya telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selain sebagai tempat jual beli barang bernilai sejarah, juga sebagai lokasi wisata yang patut dikunjungi. Di tempat itu dapat ditemukan barang dan benda antik terbuat dari kayu, logam kuningan, porselin, wayang golek, lukisan, dan barang suvenir lainnya yang sudah berusia di atas 60 tahun. Salah satu barang dan benda antik yang masih terawat baik dan dijual cukup murah di lokasi tersebut yakni sangkur terbuat dari besi baja diproduksi pada 1911 dan dijual hanya Rp 500.000.

Para pedagang mengatakan, barang dan benda antik tersebut dijual dengan harga bervariasi dari termurah Rp 5.000 hingga puluhan juta rupiah per unit

adangdaradjatun.com

Rabu, 21 Oktober 2009

Beli Barang Antik di Kota Yogyakarta



Ada pemeo yang hidup di kalangan pedagang Yogyakarta. Bila hari pertama barang dagangan laku, itulah pertanda tempat berdagang itu akan membawa peruntungan.

Mbah Warno (59), penjual Benda Antik, percaya pemeo itu. Kebetulan, salah satu barang antik nya berupa satu keris yang dijualnya langsung terjual pada hari pertama berdagang di Pasar Klithikan Pakuncen, Yogyakarta. Inilah modal awal keyakinan Mbah Warno berdagang hingga hampir dua tahun di pasar berlantai dua itu.

Barang antik berbentuk Keris Mbah Warno adalah satu dari ribuan ragam barang—mulai dari setir mobil, lampu, buku, setrika yang sudah berwarna kecoklatan, televisi, radio, lonceng sapi, kenop pintu, sepatu, ***ar, hingga ponsel—yang dijajakan di pasar barang antik klithikan. Ada barang yang masih gres, ada juga yang bekas dan tidak utuh lagi.

Keunikan barang antik yang dipasarkan di klithikan inilah yang membuat pedagang seperti Mbah Warno tetap eksis kendati menempati tempat baru. Bersama 718 pedagang klithikan yang semula tersebar di kawasan Alun-alun Kidul, perempatan Tugu Yogyakarta, hingga Pasar Kranggan, Mbah Warno memulai ”hidup baru” berdagang di tempat yang beratap.

Sebagai pedagang, ada kalanya Mbah Warno pulang dengan tangan hampa karena tidak ada satu barang antiknya yang laku. ”Kadang hanya Rp 10.000 yang saya dapat sehari. Tapi, sehari sebelumnya, saya bisa dapat Rp 1 juta. Itu sudah untung bersih,” ucap Mbah Warno yang sudah 10 tahun berjualan barang antik di bawah pohon tanjung Alun-alun Kidul.

Rini Suwarno (56), pedagang barang antik, malahan beberapa kali didatangi pembeli dari Malaysia, Jepang, dan Australia. ”Mereka suka radio lama, keris, sampai lampu. Kemarin malah ada pembeli barang antik yang bayar pakai ringgit,” katanya.

Siang itu, lapak Rini didatangi Teruki Uchise, turis Jepang. Teruki baru pertama kali ke pasar klithikan. Teruki langsung ”jatuh cinta” pada barang antik koin dan kunci. ”Saya datang ke Yogya untuk pertemuan bisnis. Sekarang ada waktu luang, saya diajak teman ke pasar ini. Ternyata barang dagangannya unik- unik,” kata Teruki sambil berjongkok, memilih barang antik.

Di pasar itulah Mbah Warno, Budi, Rini, dan ratusan pedagang klithikan menikmati dinamika berdagang di bawah naungan atap pasar.

Di sisi lain, Teruki selain mendapatkan barang antik juga dapat menikmati tujuan wisata unik di pasar klithikan.

Wali Kota Herry terus terang mengaku tak punya instrumen yang menjamin kelanggengan suasana berdagang di pasar klithikan, kecuali komitmen pimpinan daerah serta pemihakannya kepada pengusaha kecil dan pasar tradisional.

Andai kata kepala daerah kelak berganti, barangkali nasib para pedagang itu pun ikut berganti. Tak ada yang bisa menjamin.

cetak.kompas.com

Jumat, 11 September 2009

Pameran 100 Penutup Kepala Langka Khas Indonesia

Sekitar 100 penutup kepala yang kini terbilang langka yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia segera dipamerkan untuk umum.

"Ada sekitar 100 penutup kepala langka dari daerah-daerah akan dipamerkan bahkan ada beberapa yang sudah punah akan turut ditampilkan," kata Ketua Umum Himpunan Wastraprema (Himpunan Pecinta Kain Adati Indonesia), Adiati Arifin Siregar, di Jakarta.

Pihaknya yang merupakan Himpunan Pecinta Kain Adati Indonesia (Wastraprema) akan menyelenggarakan pameran langka yang baru pertama kali digelar di Indonesia bertajuk Pameran Seni Tutup Kepala Nusantara beserta ragam hiasnya dari berbagai daerah di Indonesia pada medio April mendatang di JCC Jakarta.

Pameran unik tersebut digelar sebagai bentuk kepedulian Wastraprema terhadap seni tutup kepala yang kini nyaris punah padahal merupakan salah satu warisan leluhur yang tidak ternilai harganya.

Sementara itu Ketua Penyelenggara Pameran, Hj. Noes Moeljanto Djojomartono, mengatakan, pihaknya prihatin dengan kondisi saat ini di mana tutup kepala adati sudah semakin dilupakan dan ditinggalkan bahkan banyak generasi muda yang sudah tidak mengenalnya.

"Banyak pula di sanggar-sanggar busana, tutup kepala adati sudah dicampuradukkan keasliannya sehingga makin tidak karuan," katanya.

Pihaknya bertekad menyajikan keaslian seni tutup kepala kepada khalayak melalui pameran itu.

"Ini kami kembalikan kepada masyarakat termasuk para desainer agar penggunaannya jangan sembarangan sebab semuanya ada falsafahnya," katanya.

Sejumlah penutup kepala adat yang akan dipamerkan merupakan Barang Langka yang tidak jarang terbuat dari emas asli. Bahkan ada beberapa yang sudah dinyatakan punah seperti tutup kepala asal Nias, Melawai, dan Tanimbar.

Selain itu ada penutup kepala asal Sumatera Barat Pariaman bernama Saluang berbahan kain songket milik kolektor Atitje Aryman. Dipamerkan pula topi toraja dari Sulawesi Selatan berbahan serat daun lontar milik Anjungan Sulawesi Selatan TMII.

Dari Minangkabau dipamerikan penutup kepala bernama saluak deta batimbo kayu berbahan kayu yang ***kir milik kolektor Nian Djoemina.

Sementara dari Kalimantan Timur disajikan kostum & (Jual Properti) topi wanita dayak kenyah berbahan manik-manik dan taring binatang milik Museum Purna Bhakti Pertiwi.

Pameran juga menyajikan tutup kepala asal Lampung bernama siger pepaduan dari tulang bawang berbahan logam sepuh emas milik kolektor Ade Krishna Raga. Ada pula dari Kerinci Jambi ikat kepala wanita dari beludru hitam milik Museum Purna Bhati Pertiwi.

Selain itu ada ikat kepala pria untuk upacara yang terbuat dari logam berasal dari Timor milik kolektor Caecil Papadimitrou, tutup kepala penari arja dari Bali yang terbuat dari lempeng logam dan kertas emas, dan songkok manggalayuda yang terbuat dari beludru hitam dan sulam benang emas dari Yogyakarta Pakualaman milik Puro Pakualaman.

"Soal keamanan kami sudah menyiapkan jasa securicor yang menjaga barang-barang tersebut 24 jam nonstop," kata Noes.

vibizdaily.com

Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action Sekarang