Tampilkan postingan dengan label benda antik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label benda antik. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 November 2009

Pusat Pasar Barang Langka Antik di Kota Surabaya


Bagi penghobi barang-barang antik dan Barang Langka seperti lampu zaman Belanda, guci, keramik, lemari kuno terbuat dari kayu jati dan barang antik lainnya, mungkin tak ada salahnya mampir di Kawasan Wisata Pasar Antik di Jalan Bodri belakang Gelora Pancasila, Surabaya.

Di sepanjang Jalan Bodri, berjejer 8 stand yang menjual barang-barang langka dan antik. Stand penjual barang langka antik itu berdiri sejak 4 tahun lalu. "Disini kami menjual barang-barang antik, unik maupun kuno," ujar Harun Herdian penjaga di salah satu stand Pasar Antik Surabaya, kepada detiksurabaya.com, Sabtu (18/10/2008).

Saat memasuki di stand itu, tampak bergelantungan lampu gantung Elmina zaman Belanda. Setrika energi panasnya dari kayu arang, gilingan kopi, telepon cowboy, terompet, radio kuno produksi tahun 1930, jam dinding, guci, koin kuno, keris dan berbagai barang langka antik lainnya.

Harun mengatakan, barang-barang langka antik ini umurnya di atas 50 tahun dan dijual mulai Rp 50 ribu hingga jutaan rupiah. "Kalau yang paling murah harganya seperti asbak dari besi. Sedangka barang langka antik yang harganya jutaan rupiah seperti lemari kuno dari kayu jati," katanya.

Ia menambahkan, harga penjualan barang langka antik tidak ada pasarannya. "Ya tergantung suka sama sukanya. Kalau pembeli suka barang antik itu dan harga yang kami tawarkan cocok, akan kita berikan," tuturnya.

Seperti, harga lampu lampu gantung Elmina yang harganya Rp 1,5 juta bisa ditawar menjadi Rp 1,3 juta. "Kualitas dan nilai unik barang juga dapat mempengaruhi harga. Kalau barang itu kuno dan lama harganya lebih mahal dari pada barang motif kuno yang direpro," terangnya.

Pasar barang langka antik itu dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga 19.00 WIB. Meski dibuka setiap hari, jumlah kolektor pemburu barang antik dapat dihitung setiap harinya.

"Ya nggak mesti mas. Kadang sehari ada dua pembeli. Kadang hingga dua hari tidak ada pembeli," tuturnya.

Hal yang sama juga diakui Burhan pedagang barang antik lainnya. "Namanya orang berjualan, kadang ada pembeli kadang tidak ada," tambahnya.

Untuk menambah pendapatan, mereka membuka jasa servis pencucian barang yang terbuat dari kuningan maupun merepro barang langka kuno. Ongkos jasa servis juga bervariatif. "Dilihat tingkat kesulitannya. Kalau mudah harganya sekitar Rp 20 ribu. Kalau sulit bisa lebih mahal lagi," jelasnya.

surabaya.detik.com

Kamis, 19 November 2009

Mendulang Untung dari Koleksi Benda Antik



Di penghujung tahun lalu, ada pemandangan menarik di Darmawangsa Square, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tepatnya, di Galeri Sidharta Auctioneer. Saat itu tengah digelar lelang barang-barang seni nan antik. Tentu saja para penikmat seni sedang larut dalam proses lelang Benda Antik itu. Tak jarang mereka berlomba untuk mendapatkan benda incarannya. Nilai tawar-menawarnya pun bukan dalam hitungan kecil, tetapi dalam angka yang relatif besar.

Salah satu benda antik seni yang sedang dilelang adalah sejumlah mebel antik yang berasal dari Eropa dan dalam negeri yang dibuat dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20. Ada lemari bergaya Belanda abad ke-19 dengan kaki berbentuk bulat dan cakar ditawarkan di kisaran harga Rp 25-27 juta. Lalu, sepasang kursi dari Italia abad ke-18 dengan kakinya yang membentuk huruf X melengkung yang ditawarkan Rp 18-20 juta. Tak hanya itu, balai lelang ini pun menjajakan furnitur gaya Semarangan, mulai dari kursi, meja rias hingga meja pojok.

Dalam lelang benda antik tersebut nampak Suli Mahatma sedang asyik mengajukan harga tertinggi untuk memperoleh benda incarannya, sebuah lemari sudut yang unik. Sepertinya mantan pramugari Gadura ini tak pernah puas dengan koleksi mebel antik yang sudah ia miliki. “Koleksi saya belum banyak, baru 50 unit,” katanya merendah. Koleksinya itu beragam, mebel Jawa, Palembang, Cina hingga Eropa.

Lelang memang merupakan salah satu cara berburu benda antik. Namun, lelang mebel antik tergolong langka seperti bendanya. “Kami juga baru sekali ini melelang mebel antik dan animo pengunjung cukup besar,” ucap Amir Sidharta, pemilik Galeri Sidharta Auctioneer. Tak bisa dipungkuri, mencari mebel antik tidaklah gampang. Perlu kemampuan dan pengalaman tersendiri untuk mendapatkannya. Tak jarang banyak mebel antik nan indah, tapi hasil reproduksi dari benda aslinya.

Amir sendiri bisa mendapatkan benda antik dengan berbagai cara, mulai dari mendatangi para kolektornya yang ingin melepas bendanya atau para pewaris benda itu karena ingin beralih gaya ke yang lebih kontemporer dan minimalis, hingga bekerja sama dengan berbagai galeri benda antik yang menjajakan mebel antik. “Kami tidak membeli tapi menjadi fasilitator antara penjual dan pembeli,” ujar Amir sambil menjelaskan dalam lelang itu pihaknya berhasil mengumpulkan Rp 300 juta.

Suli yang sudah sejak 1980-an mengoleksi mebel antik punya kiat untuk memperoleh koleksinya, yaitu melalui sesama kolektor baik membeli maupun barter benda seni. “Saya lebih senang mendapatkannya dari kolektor sebelumnya atau dimiliki orang lain, bukan dari pedagang,” ia bertutur. Kalau dari toko-toko benda antik seperti di Ciputat, Tangerang, ia kadang meragukan keasliannya, apakah hasil reproduksi atau bukan.

Seperti benda antik berupa kursi Cirebon yang berumur sekitar 200 tahun itu, awalnya kepunyaan temannya yang juga kolektor benda seni. Setiap kali Suli bertandang ke rumah sang teman, selalu diceritakan sejarah tempat duduk itu. Sampai-sampai Suli kepincut untuk mengambil alih. “Saya sampai memaksa teman untuk menjualnya,” ujarnya seraya tertawa lebar. Suli menyebutkan, kursi itu ia beli seharga US$ 3 ribu di tahun 1980-an.

Terlepas dari berbagai tujuannya memiliki mebel antik, itu semua merupakan sebuah investasi. “Ada yang memiliki benda antik sebagai investasi untuk mendapatkan kepuasan, dan ada juga yang investasi untuk mencari keuntungan materi,” kata Amir menganalisis. Malah Suli memandang, mengoleksi mebel antik itu ibarat investasi tanah. “Semakin lama harganya akan naik,” ia menandaskan. Bedanya, kalau tanah nilainya jadi tinggi karena lokasinya, sedangkan mebel antik tergantung pada model, kualitas dan otentitasnya.

dedesuryadi.blogspot.com

Rabu, 04 November 2009

Jalan Surabaya, Pasar Barang & Benda Antik yang Meredup



Pedagang barang dan Benda Antik di Jalan Surabaya, Menteng, Jakarta Pusat, minta pemerintah membantu promosi menyusul turunnya jumlah pengunjung hingga separuh sejak 2005. "Pengunjung turun tajam sejak empat tahun silam dan hingga sekarang masih tetap sedikit, untuk itu kami minta pemerintah menggenjot promosi," kata H Mumu Hidayat, Koordinator Pedagang Benda Antik pasar itu, di Jakarta, Kamis.

Menurut Hidayat, promosi itu bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga untuk pasar luar negeri mengingat sebelumnya tempat ini menjadi salah satu favorit turis untuk mencari benda antik. "Sebelum tahun 2005 banyak turis Australia, Swedia, dan beberapa negara lainnya, secara rutin mengunjungi satu-satunya pasar benda antik di Jakarta ini, dan biasanya selalu membeli barang apa saja yang diminati," kata Hidayat.

Sardi, penjual barang dan benda antik yang mengaku sudah 35 tahun berjualan di pasar itu, mengatakan, "Dalam dua tiga tahun belakangan ini barang dan benda antik yang laku jumlahnya terus menurun, kalau sebelumnya tiap minggu pasti ada yang beli, belakangan ini hanya laku dua atau tiga buah dalam sebulan."

Akibat pendapatan menipis, dia mengaku tak jarang harus mengutang untuk membiayai keluarga.

Pasar Antik Surabaya telah ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selain sebagai tempat jual beli barang bernilai sejarah, juga sebagai lokasi wisata yang patut dikunjungi. Di tempat itu dapat ditemukan barang dan benda antik terbuat dari kayu, logam kuningan, porselin, wayang golek, lukisan, dan barang suvenir lainnya yang sudah berusia di atas 60 tahun. Salah satu barang dan benda antik yang masih terawat baik dan dijual cukup murah di lokasi tersebut yakni sangkur terbuat dari besi baja diproduksi pada 1911 dan dijual hanya Rp 500.000.

Para pedagang mengatakan, barang dan benda antik tersebut dijual dengan harga bervariasi dari termurah Rp 5.000 hingga puluhan juta rupiah per unit

adangdaradjatun.com

Rabu, 21 Oktober 2009

Beli Barang Antik di Kota Yogyakarta



Ada pemeo yang hidup di kalangan pedagang Yogyakarta. Bila hari pertama barang dagangan laku, itulah pertanda tempat berdagang itu akan membawa peruntungan.

Mbah Warno (59), penjual Benda Antik, percaya pemeo itu. Kebetulan, salah satu barang antik nya berupa satu keris yang dijualnya langsung terjual pada hari pertama berdagang di Pasar Klithikan Pakuncen, Yogyakarta. Inilah modal awal keyakinan Mbah Warno berdagang hingga hampir dua tahun di pasar berlantai dua itu.

Barang antik berbentuk Keris Mbah Warno adalah satu dari ribuan ragam barang—mulai dari setir mobil, lampu, buku, setrika yang sudah berwarna kecoklatan, televisi, radio, lonceng sapi, kenop pintu, sepatu, ***ar, hingga ponsel—yang dijajakan di pasar barang antik klithikan. Ada barang yang masih gres, ada juga yang bekas dan tidak utuh lagi.

Keunikan barang antik yang dipasarkan di klithikan inilah yang membuat pedagang seperti Mbah Warno tetap eksis kendati menempati tempat baru. Bersama 718 pedagang klithikan yang semula tersebar di kawasan Alun-alun Kidul, perempatan Tugu Yogyakarta, hingga Pasar Kranggan, Mbah Warno memulai ”hidup baru” berdagang di tempat yang beratap.

Sebagai pedagang, ada kalanya Mbah Warno pulang dengan tangan hampa karena tidak ada satu barang antiknya yang laku. ”Kadang hanya Rp 10.000 yang saya dapat sehari. Tapi, sehari sebelumnya, saya bisa dapat Rp 1 juta. Itu sudah untung bersih,” ucap Mbah Warno yang sudah 10 tahun berjualan barang antik di bawah pohon tanjung Alun-alun Kidul.

Rini Suwarno (56), pedagang barang antik, malahan beberapa kali didatangi pembeli dari Malaysia, Jepang, dan Australia. ”Mereka suka radio lama, keris, sampai lampu. Kemarin malah ada pembeli barang antik yang bayar pakai ringgit,” katanya.

Siang itu, lapak Rini didatangi Teruki Uchise, turis Jepang. Teruki baru pertama kali ke pasar klithikan. Teruki langsung ”jatuh cinta” pada barang antik koin dan kunci. ”Saya datang ke Yogya untuk pertemuan bisnis. Sekarang ada waktu luang, saya diajak teman ke pasar ini. Ternyata barang dagangannya unik- unik,” kata Teruki sambil berjongkok, memilih barang antik.

Di pasar itulah Mbah Warno, Budi, Rini, dan ratusan pedagang klithikan menikmati dinamika berdagang di bawah naungan atap pasar.

Di sisi lain, Teruki selain mendapatkan barang antik juga dapat menikmati tujuan wisata unik di pasar klithikan.

Wali Kota Herry terus terang mengaku tak punya instrumen yang menjamin kelanggengan suasana berdagang di pasar klithikan, kecuali komitmen pimpinan daerah serta pemihakannya kepada pengusaha kecil dan pasar tradisional.

Andai kata kepala daerah kelak berganti, barangkali nasib para pedagang itu pun ikut berganti. Tak ada yang bisa menjamin.

cetak.kompas.com

Rabu, 09 September 2009

Lokasi Belanja Murah di Pasar Pagi Depok

Laksana kran air yang lama tertahan alirannya, setiap Minggu pagi di Jalan Raya Juanda Depok sepanjang 2,5 km, dipenuhi tak kurang dari 3000an orang. Mereka datang dengan berjalan kaki sambil berolah raga, atau bersepeda motor bersama anak, istri atau suaminya, bahkan tak jarang menggunakan kendaraan mewah sambil dikemudikan perlahan-lahan.

Kesibukan rutin yang dimulai sekitar jam 5 sampai jam 10an ini tak lain hasil interaksi sebagian warga Depok dengan para pedagang beserta aneka dagangannya : pecel madiun, pakaian anak dan dewasa, bubur ayam , Baby Flashcards hingga soup souffle ala bintang 5, motor kredit baru maupun bekas, handphone murah yang sedang promosi, bahkan lemari es dan televisi besar yang biasa tersedia di Hypermarket.

Tak berlebih bila Schopenhauer, filsuf Jerman, menyebut bahwa tindakan manusia bukanlah sekedar olahan terangnya rasio. Tindakan manusia merupakan cermin kehendaknya yang sering bekerja menelusuri lorong-lorong ketaksadaran mereka. Sehingga tak peduli dengan keterbatasan penghasilan atau tekanan akibat tingginya harga minyak goreng, manakala kehendak meruyak, melangkahlah kaki mengikuti kehendak.

Demikian pula dengan Freud, Sang Psikoanalis, dengan terang menyebutkan, manakala kehendak tersumbat ke ruang-ruang bawah sadar akibat aneka penyebab, nilai-nilai abstrak maupun nilai-nilai akibat keterbatasan yang tercipta oleh keadaan ekonomi, sosial, politik, dengan sedikit terbukanya katup maka meluaplah dorongan rasa menemui penyalurannya.

Mal-mal, hypermarket megah maupun berbagai pilihan tempat berbelanja yang baru, rupanya tak mampu menyentuh kebutuhan masyarakat luas di Depok. Mereka merasakan adanya jarak yang sangat tak terjangkau untuk nikmati kemewahan yang tersedia. Harga yang mahal, kebutuhan yang palsu layanan-layanan ramah semata demi merogoh persedian kantong lebih banyak, atau sambutan formal tak manusiawi para satpam yang leluasa memeriksa-memeriksa isi tas pengunjung demi alasan keamanan.

Dengan Pasar Minggu Pagi Depok ini, semua hasrat konsumsi mudah memperoleh penyalurannya. Yang berbekal uang cekak bisa puas dengan semangkok bubur ayam, yang datang dengan dana lebih banyak, bisa dapat kaos Adidas KW I tapi keren dan yang dananya lebih besar lagi, bisa bawa pulang handphone baru harga pabrik. Segala macam Obat Kutil Dan obat kulitpun ada. Semua puas, semua girang. Dan soal aturan, tak perlu khawatir: tak bakal ada satpam yang berhak mengaduk-aduk isi tas pengunjung. Pokoknya semua ada barang aneh & Barang Langka juga ada.

Dengan gambaran ini, rasanya pengembang tak perlu lagi repot bikin feasibility study yang mahal harganya tapi sering didandani datanya, demi memksakan pembangunan sebuah mall baru, yang ujung-ujungnya memaetkan jalan raya. Rakyat sudah tahu kebutuhan dan kemampuan belinya. Pemegang kekuasaan birokrasi tinggal menata interaksi pedagang dan konsumen lebih nyaman. Semua untung-semua senang. Tanpa gembar-gembor launching dan promosipun, pasar yang tak menelan APBD untuk pengadaannya, ini berhasil dikunjungi ribuan orang, dan bayangkan berapa ratus juta per minggu transaksi yang dihasilkan ?

wikimu.com

Dukung Kampanye Stop Dreaming Start Action Sekarang